Polychlorinated Biphenyls atau PCB adalah suatu kelompok senyawa kimia buatan yang dapat berwujud cairan minyak maupun padatan.


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Gedung C, Lantai 2
Jln. D.I. Panjaitan Kav. 24 Kebon Nanas,
Jakarta Timur 13410

Polutan Organik yang Persisten (POPs)

Konvensi Stockholm merupakan konvensi Internasional tentang penghilangan bahan berbahaya dan beracun yang tersebar diseluruh dunia. Konvensi ini telah didukung oleh 179 negara dan disetujui dan ditandatangai oleh 92 negara (termasuk Indonesia)

Semua POPs mempunyai 4 sifat umum:

  • Tahan Urai,
  • Terakumulasi dalam tubuh,
  • Tahan dalam pendistribusian jarakjauh secara global;
  • dan Beracun.

Contoh bahan-bahan kimia yang berbahaya:

  • Pestisida,
  • Logam berat,
  • Tahan terhadap pemanasan sampai dengan 1.500°c,
  • Bahan kimia industri dan produk sampingan proses industri,
  • dan Limbah elektronik.

Sekitar 80.000 bahan kimia sintetis baru telah diproduksi
dan lepas ke lingkungan sejak Perang Dunia II.

Semua senyawa POPs memiliki empat sifat umum (IPEN, 2008) yang terdiri dari:

POPs adalah polutan kimia yang sulit terdegradasi secara fisik, kimia dan biologi. Oleh karena itu, saat POPs terbawa ke lingkungan, maka senyawa tersebut akan sulit terdekomposisi dan bertahan dalam waktu yang lama.

POPs adalah polutan kimia yang mudah larut dalam lemak. Mereka terakumulasi dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jaringan tubuh organism hidup dibandingkan yang ditemukan di lingkungan sekitar.

POPs adalah polutan kimia yang dapat menempuh jarak jauh dalam suatu ruang lingkup lingkungan dan menyebabkan kontaminasi berbahaya di lokasi yang berjarak jauh dari tempat awal masuknya bahan kimia ke lingkungan.

POPs adalah polutan kimia dengan potensi membahayakan kesehatan manusia dan/atau ekosistem.

Saat ini terdapat 23 senyawa kimia yang diatur dalam Konvensi

Beberapa daftar pestisida telah dilarang sejak tahun 1991; Antara tahun 1979 dan 1980 rata-rata 6500 ton pestisida telah digunakan dan antara tahun 1981 dan 1982 kurang lebih 15,000 ton telah digunakan di seluruh Indonesia (Soekarna and Sundaru 1983); Konsentrasi tinggi DDT telah ditemukan di tanah dan air di berbagai wilayah Indonesia.

Lebih dari 6% peralatan kimia di Indonesia ditemukan terkontaminasi PCB dan 17%nya memiliki kontaminasi yang sangat tinggi; Sekitar 23,000 ton minyak trafo telah terkontaminasi PCB.

Secara tidak sengaja, POPs telah tercatat dari beberapa aktivitas seperti pembakaran sampah, produksi besi dan non-besi, pembangkit listrik dan panas, produksi bahan mineral dan kimia dan konsumsi barang-barang.

Struktur Kimia POPs
Aldrin – digunakan untuk membunuh serangga tanah seperti rayap dan belalang untuk melindungi tanaman seperti jagung dan kentang.
Alpha hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai insektisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
Beta hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai pestisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
Chlordane – digunakan sejak tahun 1950-an sebagai spektrum insektisida, utamanya untuk tujuan non-pertanian dan pada tingkat lebih rendah pada tanaman dan ternak. Sejak pertengahan tahun 1970-an, penggunaannya secara umum dibatasi untuk mengendalikan rayap;
Chlordecone – digunakan sebagai pestisida pertanian
Dieldrin – digunakan dalam perkebunan buah-buahan, untuk hama tanah jagung, lading kapas dan kentang serta untuk kontrol ecto-parasite pada ternak.
Endrin – digunakan sebagai rodentisida dan insektisida pada kapas, padi, tanaman jagung, dan untuk kontrol ecto-parasite pada ternak
Heptachlor – digunakan untuk membunuh rayap, semut, dan serangga dalam butir benih dan tanaman
Hexabromobiphenyl ­ digunakan sebagai flame retardant, terutama pada tahun 1970-an
Hexabromodiphenyl ether dan heptabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Hexachlorobenzene (HCB) – digunakan sebagai fungisida dimana sebelumnya untuk perawatan benih, terutama pada gandum
Lindane – digunakan sebagai spectrum insektisida untuk perawatan benih dan tanah, dedaunan dan mengatasi ecto-parasite pada penyakit hewan dan manusia.
Mirex – digunakan sebagai insektisida pada berbagai tanaman pertanian dan pengendalian semut dan rayap; juga sebagai flame retardant
Pentachlorobenzene – digunakan dalam zat pewarna, fungisida, flame retardant dan sebagai bahan perantara kimia.
Polychlorinated Biphenyls – Senyawa dipergunakan di industri sebagai cairan pertukaran panas, dalam transformator dan kapasitor listrik, sebagai aditif dalam cat, carbonless copy paper, sealant dan plastic.
Technical endosulfan dan its related isomers – digunakan untuk pengendalian hama tanaman, lalat tsetse, dan ecto-parasite pada ternak.
Tetrabromodiphenyl ether dan pentabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Toxaphene – digunakan sebagai insektisida untuk kapas dan sayuran, ternak dan unggas.
Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) – digunakan secara luas sebagai insektisida. Hal ini adalah sah untuk digunakan sebagai pengendalian vektor penyakit di beberapa negara.
Perfluorooctane sulfonic acid (PFOS), its salts dan perfluorooctane sulfonyl fluoride (PFOS-F) – digunakan di bagian listrik dan elektronik, busa pemadam kebakaran, pencitraan foto, cairan hidrolik dan tekstil
Dioxins – produk sampingan pada pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya. Daur ulang logam tertentu, pemutihan pulp dan kertas dapat melepaskan dioxin
Furans – dihasilkan selama pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya
Hexachlorobenzene (HCB) – dikeluarkan sebagai produk sampingan selama pembuatan bahan kimia tertentu
Polychlorinated biphenyls (PCBs) – juga dapat diproduksi sebagai produk sampingan
Pentachlorobenzene – produk sampingan yang dihasilkan selama pembakaran, proses termal dan industri dan ada dalam bentuk sisa pencemar dalam produk seperti pada pelarut atau pestisida
ANNEX-A
Aldrin – digunakan untuk membunuh serangga tanah seperti rayap dan belalang untuk melindungi tanaman seperti jagung dan kentang.
Alpha hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai insektisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
Beta hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai pestisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
Chlordane – digunakan sejak tahun 1950-an sebagai spektrum insektisida, utamanya untuk tujuan non-pertanian dan pada tingkat lebih rendah pada tanaman dan ternak. Sejak pertengahan tahun 1970-an, penggunaannya secara umum dibatasi untuk mengendalikan rayap;
Chlordecone – digunakan sebagai pestisida pertanian
Dieldrin – digunakan dalam perkebunan buah-buahan, untuk hama tanah jagung, lading kapas dan kentang serta untuk kontrol ecto-parasite pada ternak.
Endrin – digunakan sebagai rodentisida dan insektisida pada kapas, padi, tanaman jagung, dan untuk kontrol ecto-parasite pada ternak
Heptachlor – digunakan untuk membunuh rayap, semut, dan serangga dalam butir benih dan tanaman
Hexabromobiphenyl ­ digunakan sebagai flame retardant, terutama pada tahun 1970-an
Hexabromodiphenyl ether dan heptabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Hexachlorobenzene (HCB) – digunakan sebagai fungisida dimana sebelumnya untuk perawatan benih, terutama pada gandum
Lindane – digunakan sebagai spectrum insektisida untuk perawatan benih dan tanah, dedaunan dan mengatasi ecto-parasite pada penyakit hewan dan manusia.
Mirex – digunakan sebagai insektisida pada berbagai tanaman pertanian dan pengendalian semut dan rayap; juga sebagai flame retardant
Pentachlorobenzene – digunakan dalam zat pewarna, fungisida, flame retardant dan sebagai bahan perantara kimia.
Polychlorinated Biphenyls – Senyawa dipergunakan di industri sebagai cairan pertukaran panas, dalam transformator dan kapasitor listrik, sebagai aditif dalam cat, carbonless copy paper, sealant dan plastic.
Technical endosulfan dan its related isomers – digunakan untuk pengendalian hama tanaman, lalat tsetse, dan ecto-parasite pada ternak.
Tetrabromodiphenyl ether dan pentabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Toxaphene – digunakan sebagai insektisida untuk kapas dan sayuran, ternak dan unggas.
ANNEX-B
Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) – digunakan secara luas sebagai insektisida. Hal ini adalah sah untuk digunakan sebagai pengendalian vektor penyakit di beberapa negara.
Perfluorooctane sulfonic acid (PFOS), its salts dan perfluorooctane sulfonyl fluoride (PFOS-F) – digunakan di bagian listrik dan elektronik, busa pemadam kebakaran, pencitraan foto, cairan hidrolik dan tekstil
ANNEX-C
Dioxins – produk sampingan pada pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya. Daur ulang logam tertentu, pemutihan pulp dan kertas dapat melepaskan dioxin
Furans – dihasilkan selama pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya
Hexachlorobenzene (HCB) – dikeluarkan sebagai produk sampingan selama pembuatan bahan kimia tertentu
Polychlorinated biphenyls (PCBs) – juga dapat diproduksi sebagai produk sampingan
Pentachlorobenzene – produk sampingan yang dihasilkan selama pembakaran, proses termal dan industri dan ada dalam bentuk sisa pencemar dalam produk seperti pada pelarut atau pestisida
0 Shares
Tweet
Share
Share
WhatsApp

Aldrin is an organochlorine insecticide that was widely used until the 1990s, when it was banned in most countries. Aldrin is a member of the so-called "classic organochlorines" (COC) group of pesticides. COCs enjoyed a very sharp rise in popularity during and after The Second World War. Other noteworthy examples of COCs include DDT. After research showed that organochlorines can be highly toxic to the ecosystem through bioaccumulation, most were banned from use. It is a colourless solid. Before the ban, it was heavily used as a pesticide to treat seed and soil. Aldrin and related "cyclodiene" pesticides (a term for pesticides derived from Hexachlorocyclopentadiene) became notorious as persistent organic pollutants.

α-HCH adalah zat organoklorin yang merupakan salah satu isomer dari hexachlorocyclohexane (HCH). Yang merupakan salah satu produk samping dari insektisida lindan dan merupakan salah satu jenis yang masih terkandung dalam insektisida di pasaran. Lindan meskipun sudah tidak diproduksi maupun digunakan namun telah dipergunakan di AS selama kurun waktu lebih dari 20 tahun. Detail kunjungi: http://sib3pop.menlhk.go.id