Polychlorinated Biphenyls atau PCB adalah suatu kelompok senyawa kimia buatan yang dapat berwujud cairan minyak maupun padatan.


Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Gedung C, Lantai 2
Jln. D.I. Panjaitan Kav. 24 Kebon Nanas,
Jakarta Timur 13410

Slide POLYCHLORINATED
BIPHENYLS
adalah salah satu dari 23 POPs yang terdaftar
pada Konvensi Stockholm. Bahan kimia ini ditemukan
pada tahun 1920-an dan digunakan sebagai
media isolasi minyak dalam peralatan listrik,
fluida perpindahan panas dan di dalam pelumas.
Lebih Lanjut
Slide DIMANA PCBs DITEMUKAN PCBs tidak pernah diproduksi di Indonesia
tapi secara luas diimpor dan digunakan sampai tahun 1985,
ketika Pertamina melarang penggunaan PCBs.
Secara resmi, PCBs dilarang untuk digunakan, diimpor
dan ekspor di Indonesia sejak tahun 2001 dan diatur oleh
PP Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001
tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.
Lebih Lanjut

Manajemen POPs di Indonesia

 

Indonesia adalah salah satu negara pihak (party) Konvensi Stockholm sejak tahun 2009, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan the United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) di bawah PBB telah bekerja sama untuk menghapuskan, membatasi, dan melarang POPs di seluruh nusantara. Pendanaan diberikan oleh Global Environment Facility (GEF) untuk pengembangan National Implementation Plan (NIP) di Indonesia dengan tujuan menghilangkan POPs secara bertahap dan untuk mendata POPs secara komprehensif di seluruh provinsi. Pendataan meliputi produksi, penggunaan, impor/ekspor, penimbunan, emisi dan lokasi sumber dan lahan yang terkontaminasi.

Penambahan sembilan bahan kimia baru di 2009, satu bahan kimia di 2011 dan 2014 membuat semua negara penandatanganan konvensi wajib memperbaharui NIP mereka dan menyelesaikan inventarisasi POPs terbaru. Indonesia memperbaharui pendataan pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 pendataan baru tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

PCBs di Indonesia

 

Polychlorinated Biphenyls (PCBs) adalah salah satu dari 23 POPs yang terdaftar pada Konvensi Stockholm pada tahun 2014. Bahan kimia ini ditemukan di akhir tahun 1920 dan digunakan sebagai minyak insulator pada peralatan elektronik, cairan penghantar panas dan pelumas. PCB sangat sulit untuk diurai oleh asam dan basa maupun panas. Sifat yang tahan ini dipakai untuk membuat plastik, pelapis permukaan, tinta, perekat, cat maupun kertas duplikasi non-karbon. Pada akhir tahun 1970, PCBs dan POPs lainnya ditemukan dengan konsentrasi tinggi di lingkungan dan jaringan lemak manusia, oleh karena itu PCBs dilarang penggunaannya di beberapa negara maju.

NIP pertama dan terbaru mencantumkan penghapusan dan pembuangan Polychlorinated Biphenyls (PCB) sebagai satu dari bahan kimia industri yang menjadi rencana tindak prioritas. PCB tidak pernah diproduksi di Indonesia tetapi telah diimpor secara luas dan digunakan sampai tahun 1985, ketika Pertamina melarang penggunaan PCB. Kini, PCB resmi telah dilarang digunakan, diimpor dan diekspor sejak tahun 2001 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

Polutan Organik Persisten (POPs)

Manajemen POPs di Indonesia

 

Indonesia adalah salah satu negara pihak (party) Konvensi Stockholm sejak tahun 2009, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan the United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) di bawah PBB telah bekerja sama untuk menghapuskan, membatasi, dan melarang POPs di seluruh nusantara. Pendanaan diberikan oleh Global Environment Facility (GEF) untuk pengembangan National Implementation Plan (NIP) di Indonesia dengan tujuan menghilangkan POPs secara bertahap dan untuk mendata POPs secara komprehensif di seluruh provinsi. Pendataan meliputi produksi, penggunaan, impor/ekspor, penimbunan, emisi dan lokasi sumber dan lahan yang terkontaminasi.

Penambahan sembilan bahan kimia baru di 2009, satu bahan kimia di 2011 dan 2014 membuat semua negara penandatanganan konvensi wajib memperbaharui NIP mereka dan menyelesaikan inventarisasi POPs terbaru. Indonesia memperbaharui pendataan pada tahun 2013 dan pada tahun 2014 pendataan baru tersebut telah ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Polychlorinated Biphenyls (PCB)

PCBs di Indonesia

 

Polychlorinated Biphenyls (PCBs) adalah salah satu dari 23 POPs yang terdaftar pada Konvensi Stockholm pada tahun 2014. Bahan kimia ini ditemukan di akhir tahun 1920 dan digunakan sebagai minyak insulator pada peralatan elektronik, cairan penghantar panas dan pelumas. PCB sangat sulit untuk diurai oleh asam dan basa maupun panas. Sifat yang tahan ini dipakai untuk membuat plastik, pelapis permukaan, tinta, perekat, cat maupun kertas duplikasi non-karbon. Pada akhir tahun 1970, PCBs dan POPs lainnya ditemukan dengan konsentrasi tinggi di lingkungan dan jaringan lemak manusia, oleh karena itu PCBs dilarang penggunaannya di beberapa negara maju.

NIP pertama dan terbaru mencantumkan penghapusan dan pembuangan Polychlorinated Biphenyls (PCB) sebagai satu dari bahan kimia industri yang menjadi rencana tindak prioritas. PCB tidak pernah diproduksi di Indonesia tetapi telah diimpor secara luas dan digunakan sampai tahun 1985, ketika Pertamina melarang penggunaan PCB. Kini, PCB resmi telah dilarang digunakan, diimpor dan diekspor sejak tahun 2001 sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun.

PCBs Database Management System

Pemerintah Indonesia telah meratifikasi Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten melalui Undang-Undang No. 19 Tahun 2009 tentang Pengesahan Konvensi Stockholm. Tujuan konvensi ini adalah untuk melindungi manusia dan lingkungan dari dampak negatif senyawa-senyawa pencemar organik yang persisten dengan cara menghilangkan atau melarang produksi dan penggunaan Bahan Pencemar Organik yang Persisten (Persistent Organic Pollutants/POPs).

Polychlorinated Biphenyls (PCBs) merupakan salah satu senyawa POPs yang penggunaan dan peredarannya sudah dilarang, serta wajib dimusnahkan. PCBs banyak ditemukan sebagai minyak dielektrik di dalam transformator. Di Indonesia pemusnahan PCBs merupakan salah satu prioritas nasional dalam hal pengimplementasian Konvensi Stockholm sesuai dengan Rencana Aksi Nasional 2009 (National Implementation Plan-NIP). Terkait hal tersebut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO) dan Global Environment Facility (GEF) melaksanakan Proyek “Introduction of an Environmentally-sound Management and Disposal System for PCB-Wastes and PCB-Contaminated Equipment” dimana salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah Inventarisasi PCBs.

Dengan selesainya kegiatan inventarisasi PCBs, saat ini telah dibangun PCBs Database Management System untuk memfasilitasi penyimpanan, pengolahan dan penyajian data hasil inventarisasi PCBs secara online dan real time sebagai salah satu sarana pendukung untuk target rencana penghapusan PCBs di tahun 2028. Sistem database ini menyajikan data hasil pengujian tingkat kontaminasi PCBs dan juga data spasial berbasis Geographical Information System (GIS) pada minyak transformator online di Indonesia, khususnya pada transformator yang dimiliki dan digunakan oleh pihak Industri. Melalui sistem database ini, diharapkan seluruh pemangku kebijakan dapat dengan mudah untuk mengakses data dan informasi terkait kontaminasi PCBs pada transformator di Indonesia.

Data inventarisasi PCBs ini diambil pada kurun waktu 2015-2020 dengan jumlah total sampel sebanyak 4.524 sampel. Proyek inventarisasi dibagi menjadi 2 fase pengambilan yaitu fase 1 (pertama) selama periode 2015-2016 sebanyak 3015 sampel untuk Industri di wilayah Jawa. Kemudian fase 2 (kedua) selama periode 2019-2020 sebanyak 1.509 sampel untuk Industri di wilayah Jawa dan Sumatera. Sesuai dengan ketentuan Konvensi Stockholm batas konsentrasi minyak dielektrik mengandung PCBs adalah 50 ppm. Metode pengujian PCBs yang digunakan adalah dengan menggunakan alat screen test Dexsil L2000DX dengan metode uji Askarel A dimana sampel dengan kontaminasi PCBs diatas 50 ppm dikonfirmasi kembali dengan menggunakan GC-ECD (Gas Chromatography) dengan metode uji IEC 61619.

Berita Terbaru

Di dukung oleh:
  • null

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

  • null

    United Nations Industrial Development Organization

  • null

    Global Environment Facility

  • null

    Hatfield Indonesia

0 Shares
Tweet
Share
Share
WhatsApp