Konvensi Stockholm merupakan konvensi Internasional tentang penghilangan bahan berbahaya dan beracun yang tersebar diseluruh dunia. Konvensi ini telah didukung oleh 179 negara dan disetujui dan ditandatangai oleh 92 negara (termasuk Indonesia)

 

Semua POPs mempunyai 4 sifat umum:

  • Tahan Urai,
  • Terakumulasi dalam tubuh,
  • Tahan dalam pendistribusian jarak
    jauh secara global; dan
  • Beracun.

Contoh bahan-bahan kimia yang berbahaya:

  • Pestisida,
  • Logam berat,
  • Tahan terhadap pemanasan sampai dengan 1.500°c,
  • Bahan kimia industri dan produk sampingan proses industri, dan
  • Limbah elektronik.


Sekitar 80.000 bahan kimia sintetis baru telah diproduksi
dan lepas ke lingkungan sejak Perang Dunia II.


Semua senyawa POPs memiliki empat sifat umum (IPEN, 2008) yang terdiri dari:

POPs adalah polutan kimia yang sulit terdegradasi secara fisik, kimia dan biologi. Oleh karena itu, saat POPs terbawa ke lingkungan, maka senyawa tersebut akan sulit terdekomposisi dan bertahan dalam waktu yang lama
POPs adalah polutan kimia yang mudah larut dalam lemak. Mereka terakumulasi dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jaringan tubuh organism hidup dibandingkan yang ditemukan di lingkungan sekitar.
POPs adalah polutan kimia yang dapat menempuh jarak jauh dalam suatu ruang lingkup lingkungan dan menyebabkan kontaminasi berbahaya di lokasi yang berjarak jauh dari tempat awal masuknya bahan kimia ke lingkungan.
POPs adalah polutan kimia dengan potensi membahayakan kesehatan manusia dan/atau ekosistem.

Saat ini terdapat 23 senyawa kimia yang diatur dalam Konvensi

Beberapa daftar pestisida telah dilarang sejak tahun 1991; Antara tahun 1979 dan 1980 rata-rata 6500 ton pestisida telah digunakan dan antara tahun 1981 dan 1982 kurang lebih 15,000 ton telah digunakan di seluruh Indonesia (Soekarna and Sundaru 1983); Konsentrasi tinggi DDT telah ditemukan di tanah dan air di berbagai wilayah Indonesia.
Lebih dari 6% peralatan kimia di Indonesia ditemukan terkontaminasi PCB dan 17%nya memiliki kontaminasi yang sangat tinggi; Sekitar 23,000 ton minyak trafo telah terkontaminasi PCB.
Secara tidak sengaja, POPs telah tercatat dari beberapa aktivitas seperti pembakaran sampah, produksi besi dan non-besi, pembangkit listrik dan panas, produksi bahan mineral dan kimia dan konsumsi barang-barang.

 

 

 


Struktur Kimia POPs

aldrin Aldrin – digunakan untuk membunuh serangga tanah seperti rayap dan belalang untuk melindungi tanaman seperti jagung dan kentang.
Alpha-HCH Alpha hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai insektisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
Beta-hexachlorocyclohexane Beta hexachlorocyclohexane – digunakan sebagai pestisida tetapi juga sebagai produk sampingan dari Lindane
chlordane Chlordane – digunakan sejak tahun 1950-an sebagai spektrum insektisida, utamanya untuk tujuan non-pertanian dan pada tingkat lebih rendah pada tanaman dan ternak. Sejak pertengahan tahun 1970-an, penggunaannya secara umum dibatasi untuk mengendalikan rayap;
chlordecone Chlordecone – digunakan sebagai pestisida pertanian
dieldrin1 Dieldrin – digunakan dalam perkebunan buah-buahan, untuk hama tanah jagung, lading kapas dan kentang serta untuk kontrol ecto-parasite pada ternak.
Endrin Endrin – digunakan sebagai rodentisida dan insektisida pada kapas, padi, tanaman jagung, dan untuk kontrol ecto-parasite pada ternak
Heptachlor Heptachlor – digunakan untuk membunuh rayap, semut, dan serangga dalam butir benih dan tanaman
Hexabromobiphenyl Hexabromobiphenyl ­ digunakan sebagai flame retardant, terutama pada tahun 1970-an
Hexabromodiphenyl-ether heptabromodiphenyl ether_black Hexabromodiphenyl ether dan heptabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Hexachlorobenzene(HCB) Hexachlorobenzene (HCB) – digunakan sebagai fungisida dimana sebelumnya untuk perawatan benih, terutama pada gandum
Lindane Lindane – digunakan sebagai spectrum insektisida untuk perawatan benih dan tanah, dedaunan dan mengatasi ecto-parasite pada penyakit hewan dan manusia.
mirex Mirex – digunakan sebagai insektisida pada berbagai tanaman pertanian dan pengendalian semut dan rayap; juga sebagai flame retardant
Pentachlorobenzene Pentachlorobenzene – digunakan dalam zat pewarna, fungisida, flame retardant dan sebagai bahan perantara kimia.
Polychlorinated-Biphenyls Polychlorinated Biphenyls – Senyawa dipergunakan di industri sebagai cairan pertukaran panas, dalam transformator dan kapasitor listrik, sebagai aditif dalam cat, carbonless copy paper, sealant dan plastic.
Technical-endosulfan Technical endosulfan dan its related isomers – digunakan untuk pengendalian hama tanaman, lalat tsetse, dan ecto-parasite pada ternak.
Tetrabromodiphenyl-ether pentabromodiphenyl-ether Tetrabromodiphenyl ether dan pentabromodiphenyl ether – digunakan sebagai aditif flame retardant.
Toxaphene Toxaphene – digunakan sebagai insektisida untuk kapas dan sayuran, ternak dan unggas.
DDT-dichlorodiphenyltrichloroethane Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) – digunakan secara luas sebagai insektisida. Hal ini adalah sah untuk digunakan sebagai pengendalian vektor penyakit di beberapa negara.
Perfluorooctanesulfonic_acid_structure Perfluorooctane_sulfonyl_fluoride Perfluorooctane sulfonic acid (PFOS), its salts dan perfluorooctane sulfonyl fluoride (PFOS-F) – digunakan di bagian listrik dan elektronik, busa pemadam kebakaran, pencitraan foto, cairan hidrolik dan tekstil
Dioxins Dioxins – produk sampingan pada pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya. Daur ulang logam tertentu, pemutihan pulp dan kertas dapat melepaskan dioxin
Furans Furans – dihasilkan selama pembakaran tidak sempurna, serta pembuatan pestisida tertentu dan bahan kimia lainnya
Hexachlorobenzene(HCB) Hexachlorobenzene (HCB) – dikeluarkan sebagai produk sampingan selama pembuatan bahan kimia tertentu
Polychlorinated-Biphenyls Polychlorinated biphenyls (PCBs) – juga dapat diproduksi sebagai produk sampingan
Pentachlorobenzene Pentachlorobenzene – produk sampingan yang dihasilkan selama pembakaran, proses termal dan industri dan ada dalam bentuk sisa pencemar dalam produk seperti pada pelarut atau pestisida