Petaka dari Polutan Organik

GARDU-GARDU listrik dan cat serta jok mobil memang tidak berkaitan. Namun, benda-benda itu nyatanya punya persamaan yang berpotensi buruk bagi manusia dan lingkungan.

Hal itu disebabkan kandungan bahan-bahan yang termasuk polutan organik yang persisten atau dalam bentuk jamak biasa disingkat POPs. Sesuai dengan sebutannya, POPs merupakan bahan kimia yang memiliki sifat beracun, sulit terurai, dan dapat terangkut melalui udara, air, bahkan berbagai spesies yang berpindah.

Menurut Konvensi Stockholm, POPs terdiri atas tiga kategori, yakni pestisida, bahan kimia industri, dan produk yang tidak sengaja dihasilkan atau produk sampingan yang terbentuk ketika proses produksi berlangsung. Totalnya ada 23 POPs yang terdaftar pada Konvensi Stockholm.

Sebagai negara penanda tangan konvensi itu, pemerintah Indonesia juga harus menghapus keberadaan POPs di Tanah Air. Saat ini POPs yang menjadi prioritas pemerintah ialah polychlorinated biphenyl (PCBs).

Manajer Proyek Nasional Indonesia dari Organisasi PBB bidang Pengembangan Industri (Unido) Rio Deswandimenuturkan PCBs terdapat pada berbagai instalasi dan alat-alat listrik, seperti trafo, generator, kapasitor bahkan alat rumahan seperti setop kontak.

Unido berkerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membentuk rencana aksi untuk mengeliminasi semua PCBs di Indonesia pada 2020. “Untuk sekarang ini kita fokusnya ke PCBs yang ada di industri, yakni di gardu-gardu dan instalasi listrik PLN. Sekarang ini masih dalam sensus alat-alat tersebut,” tutur Rio kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Sejauh ini tim pendataan menemukan 23 ribu ton PCBs dalam minyak trafo di seluruh Indonesia. Rio menjelaskan PCBs banyak digunakan pada alat-alat itu karena sifatnya yang tahan panas, asam, ataupun basa. Sebab itu pula PCBs banyak juga digunakan sebagai bahan pembuat plastik, perekat, tinta, hingga cat.

Namun, bagaimanakah PCBs yang terkandung di dalam produk-produk itu lantas bisa mencemari lingkungan? Soal ini, peneliti bidang kimia lingkungan dan toksikologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Agus Sudaryanto menjelaskan PCBs dapat masuk ke lingkungan karena terbawa oleh air ataupun karena penguapan.

“PCBs itu kan kumpulan dari banyak PCB, ada yang ikatan kimianya kuat dan ada yang lemah. Nah saat hujan atau di bawah panas matahari, yang ikatannya lemah masuk ke badan air atau masuk ke udara. Dia akan bertahan sangat lama karena sulit terurai,” tutur Agus, Rabu (1/7).

Di lingkungan, PCBs kemudian akan masuk dan menempel pada bahan organik, termasuk jaringan tubuh makhluk hidup. Dengan sifatnya yang lipofilik (menempel pada lemak), PCBs akan terakumulasi di tubuh makhluk hidup.

Karena sulit terurai, kontaminasi PCBs dapat tersebar luas, bukan hanya di daerah yang dekat dengan sumber pencemaran. Hal itu dibuktikan sendiri lewat penelitian yang dilakukan Agus bersama rekan-rekannya pada 2011.

Dalam penelitian itu ditemukan kontaminasi PCBs dalam berbagai lokasi industrial, urban, tempat pembuangan sampah, hingga lahan pertanian di Surabaya.

Agus mengakui bisa saja penyebaran PCBs melalui air dicegah dengan penggunaan penutup yang mencegah paparan hujan. “Namun, ya, tetap saja sulit dicegah penyebarannya, apalagi lewat penguapan. Jadi yang terbaik dengan mengganti bahan-bahan itu dengan yang bebas POPs,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengakui POPs tidak mengubah kualitas lingkungan yang dikontaminasi. “Memang bahan-bahan ini tidak mengubah kualitas lingkungan itu sendiri, misal tanah tidak lantas jadi rusak. Namun, justru karena sifatnya yang terikat dengan bahan organik, POPs ini membuat lingkungan kemudian menjadi sumber pencemaran juga. POPs kemudian masuk ke tumbuhan lalu ke hewan dan terakumulasi di manusia,” tuturnya.

Debu rumah hingga ASI
Tingginya kontaminasi PCBs jika dibandingkan dengan bahan POPs di lingkungan juga terlihat dari penelitian Agus terhadap debu rumah, asupan makanan harian, dan air susu ibu (ASI). Penelitian terhadap debu rumah dan asupan makanan harian dilakukan Agus bersama rekan-rekannya pada 2007 hingga 2008.

Dalam penelitian dengan pengambilan sampel di rumah-rumah penduduk, perkantoran, hingga toko elektronik di Bogor, Jawa Barat, Agus dan rekan-rekan kemudian membandingkan kontaminasi PCBs dengan dua bahan POPs lainnya yang banyak ditemukan di sana, yakni polybrominated diphenyl ethers (PBDEs) dan hexabromocyclododecanes (HBCDs). PBDEs banyak digunakan dalam cat, plastik kualitas tinggi, busa, tekstil, elektronik, bangunan, otomotif, furnitur, hingga banyak produk plastik rumah tangga. PBDEs dan HBCDs juga kerap digunakan sebagai bahan pelapis karena sifat antiapinya.

Pada debu rumah, hasil penelitian menunjukkan tingkat residu PBDEs merupakan yang tertinggi, yakni dengan rata-rata 200 nanogram/gram (ng/g) debu. HBCDs berada di tempat kedua dengan rata-rata 24 ng/g debu, sedangkan tingkat residu PCBs merupakan yang paling rendah dengan rata-rata 14 ng/g debu.

Namun, hasil berbalik terlihat pada kontaminasi di asupan makanan harian yang berupa ikan air dan ikan laut jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan daging sapi, unggas, dan produk susu.

Kontaminasi PCBs terlihat berada pada level paling tinggi. Pada ikan air tawar, kontaminasi PCBs mencapai 110 nanogram/ hari (ng/hari), PBDEs 20 ng/hari, dan HBCDs 6,2 ng/hari. Pada ikan laut, PCBs 410 ng/hari, PBDEs mencapai 19 ng/hari, dan HBCDs 2,1 ng/hari. Sementara itu, pada daging, PCBs mencapai 16 ng/hari, PBDEs 0,58 ng/hari, dan HBCDs mencapai 0,0077 ng/hari.

Pada penelitian sebelumnya, yakni yang dilakukan pada 2001 sampai 2003, Agus dan rekan-rekannya juga telah menemukan kontaminasi PCBs pada ASI. Agus menjelaskan penelitian terhadap ASI dipilih karena merupakan salah satu bentuk lemak manusia dan mudah diambil ketimbang jaringan lemak lainnya.

Penelitian tersebut mengambil sampel di Jakarta, Bogor, Purwakarta, dan Lampung. Selain kontaminasi PCBs, penelitian itu melihat kontaminasi dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) yang banyak digunakan sebagai pestisida. Kemudian ada pula kontaminasi hexachlorocyclohexane (HCHs).

Hasilnya, kontaminasi DDTs lebih tinggi daripada PCBs dan HCHs. Di Jakarta, kontaminasi DDTs tercatat 630 ng/g berat lipid. Di Bogor, Purwakarta, dan Lampung berturut-turut ialah 1.200 ng/g berat lipid, 1.300 ng/g berat lipid, dan 1.000 ng/g berat lipid.

Untuk kontaminasi PCBs, penelitian itu mendapatkan hasil di Jakarta sebesar 33 ng/g berat lipid, Bogor 21 ng/g berat lipid, Purwakarta 24 ng/g berat lipid, dan Lampung 27 ng/g berat lipid.

“Tingginya kontaminasi DDT di Bogor, Purwakarta, dan Lampung dapat dimengerti karena di sana lebih banyak lahan pertanian dan perkebunan jika dibandingkan dengan di Jakarta. Sementara itu, di Jakarta yang merupakan daerah urban, yang tinggi ialah kontaminasi PCBs,” jelas Agus.

Dari studi-studi lain, Agus menjelaskan kontaminasi bahan-bahan POPs menimbulkan dampak yang serius, antara lain mengganggu sistem imun, reproduksi, dan menyebabkan sifat feminin. “Jadi bahan POPs itu bisa menghasilkan zat yang mirip hormon estrogen namanya eksoestrogen. Hasilnya ialah menimbulkan sifat feminin,” ujar Agus.

Di sisi lain, Agus menjelaskan terdeteksinya kontaminasi PCB pada ASI tidak berarti konsumsi ASI harus dihentikan. Pasalnya, pada ASI juga terkandung zat-zat lain yang dapat meningkatkan sistem imun.

Tingginya kontaminasi PCBs di daerah urban juga dinilai akibat sejarah penggunaannya yang telah lama di Indonesia. Agus menjelaskan PCBs memang telah diproduksi sebelum Perang Dunia II. Di negara-negara maju, konsentrasi tinggi PCbs telah terdeteksi di lingkungan dan jaringan lemak manusia. Karena itu, di negara-negara tersebut penggunaannya telah dilarang sejak era 70-an.

“Jadi kita ini sangat terlambat karena baru mendata, sedangkan negara-negara lain sudah lama melarang. Jadi penghilangan PCBs ini harus segera apalagi bahan penggantinya memang sudah ada,” tandasnya Agus. Diharapkan, rencana aksi dari pemerintah untuk penghilangan PCBs akan dapat mendesak sektor industri untuk beralih ke bahan-bahan yang lebih aman. (M-5)

Sumber: Media Indonesia

Post a comment